Primadona Rumah Murah, 2 Kawasan di Sukoharjo Ini Paling Diincar Pasangan Muda

Primadona Rumah Murah, 2 Kawasan di Sukoharjo Ini Paling Diincar Pasangan Muda
Ilustrasi rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Serambinusa.com, SUKOHARJO – Kabupaten Sukoharjo masih menjadi daerah paling diminati atau primadona bagi masyarakat khususnya pasangan suami istri (pasutri) muda untuk membeli rumah murah. Wilayah Gawok di Kecamatan Gatak dan Bekonangraya di Kecamatan Mojolaban menjadi kawasan paling potensial pengembangan perumahan subsidi.

Prospek industri properti terutama hunian tapak tetap menjanjikan meski daya beli masyarakat menurun akibat tekanan ekonomi global. Wilayah Sukoharjo yang menjadi daerah penyangga atau satelit Kota Solo menjadi pertimbangan utama konsumen yang sedang berburu rumah impian.

Selain itu, aksebilitas dan fasilitas publik seperti stasiun, pusat perbelanjaan, dan pertokoan di kawasan satelit Kota Solo menjadi nilai plus pengembangan rumah murah di Kabupaten Jamu.

“Pasar rumah murah atau rumah subsidi masih tinggi terutama di kawasan satelit Kota Solo seperti Kabupaten Sukoharjo. Tanah-tanah di kawasan Gawok, Kecamatan Gatak menjadi incaran untuk rumah tapak atau hunian layak,” kata Sekretaris Paguyuban Developer Soloraya, Lukas Sawlasana, kepada Espos, Kamis (4/6/2026).

Menurut Lukas, geliat ekonomi di kawasan Gawok mulai terlihat sejak aktivasi ulang Stasiun Gawok untuk transit kereta rel listrik (KRL) Solo-Jogja pada 2021. Tanah kosong di kawasan Gawok dilirik calon investor maupun kalangan profesional yang mencari hunian.

Belum lagi kawasan Gawok tak jauh dari pintu tol Solo-Jogja sehingga mempemudah mobilitas masyarakat. “Saat ini, rumah dengan harga di bawah Rp200 juta paling diminati masyarakat. Terutama keluarga pasutri muda atau kalangan milenial yang berminat membeli rumah untuk investasi jangka panjang,” kata dia.

Begitu pula di kawasan Bekonangraya di wilayah Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, yang menjadi lokasi pengembangan rumah subsidi. Jarak kawasan Bekonang dengan Kota Solo cukup dekat. Apabila menggunakan sepeda motor, waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit.

“Akses jalan dari kawasan Bekonang ke Kota Solo cukup representatif dan jarang macet. Tinggal lurus saja sudah sampai di Kota Bengawan. Ini juga menjadi pertimbangan utama masyarakat mencari hunian layak,” ujar dia.

Anggota Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Soloraya ini menyoroti kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang dinilai menghambat iklim investasi properti. Peta LSD dari pemerintah pusat acapkali berbenturan dengan peraturan daerah tata ruang di masing-masing daerah di Soloraya.   

Leave a Reply