Serambinusa.com, KLATEN — Menyambut Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten yang diperingati Selasa (28/7/2026), seorang petani milenial asal Desa Juwiring, Kecamatan Juwiring, membuat karya unik berupa lukisan di atas hamparan sawah. Menggunakan teknik tanbo art asal Jepang, ia menyusun tanaman padi hingga membentuk tulisan tema Hari Jadi ke-222 Klaten, Sahita Hamemayu Raharja, lengkap dengan siluet wajah Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.
Petani tersebut adalah Prihatnyo Ruli Hermawan, 39. Ia memanfaatkan lahan sawah seluas sekitar 1.700 meter persegi sebagai kanvas hidup dengan memadukan dua varietas padi, yakni Black Madras yang memiliki daun dan batang berwarna ungu kehitaman serta Cibatu yang berwarna hijau.
Ruli mengatakan proses pembuatan lukisan dilakukan bersamaan dengan musim tanam pada awal Juni lalu dan membutuhkan waktu sekitar 10 hari.
Sebelum menanam, ia terlebih dahulu membuat rancangan pola yang kemudian diterapkan di lahan sawah. Bibit ditanam mengikuti titik koordinat yang telah ditentukan menggunakan patok dan tali yang dipasang secara vertikal maupun horizontal.
Ia bersama sejumlah pekerja kemudian menata bibit padi hingga membentuk gambar wajah berukuran sekitar 13 meter x 28 meter dan tulisan seluas 14 meter x 15 meter.
“Proses untuk mencocokkan koordinat posisi padi hitam yang kami tanam membentuk wajah itu cukup lama dan jam kerjanya hanya pagi sampai siang. Jadi, membutuhkan waktu sekitar 10 hari,” ujar Ruli saat ditemui Senin (27/7/2026).
Seiring pertumbuhan tanaman yang kini berusia sekitar 40 hari setelah tanam, pola tulisan dan gambar semakin terlihat jelas sebagai bentuk partisipasinya memeriahkan Hari Jadi Klaten.
Bukan Kali Pertama
Ini bukan kali pertama Ruli membuat karya tanbo art. Pada peringatan Hari Jadi Klaten tahun lalu, ia juga membuat pola tulisan berupa tanggal peringatan dan tema hari jadi.
Tahun ini, ia memilih menampilkan wajah Bupati Hamenang Wajar Ismoyo sebagai simbol kepemimpinan generasi muda. “Dari golongan anak muda yang bisa menjadi pemimpin dan bisa diteladani,” katanya.
Menurut Ruli, tanbo art juga menjadi media kampanye regenerasi petani. Ia ingin menunjukkan bahwa pertanian merupakan sektor yang menarik sekaligus menjanjikan bagi generasi muda.
“Karena kita tahu bahwa jumlah petani saat ini masih didominasi oleh petani yang sudah sepuh,” ungkapnya.
Sebelum menekuni budidaya padi dan hortikultura sejak tiga tahun terakhir, Ruli diketahui berkecimpung di usaha tanaman hias.
Melalui karya seni di atas sawah tersebut, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap dunia pertanian.
Menurutnya, pertanian tidak hanya penting sebagai penyedia pangan, tetapi juga memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola dengan inovatif.
“Sekarang trennya juga terkait dengan isu krisis pangan secara global. Jadi, orang akan cenderung melihat ke sektor pertanian karena untuk menghasilkan bahan pangan. Lewat pertanian juga mendapatkan relasi yang lebih banyak,” jelasnya.
Momentum Hari Jadi ke-222 Klaten juga dimanfaatkannya untuk menyampaikan harapan agar sektor pertanian tetap menjadi salah satu kekuatan utama Kabupaten Klaten sebagai lumbung padi di Jawa Tengah maupun tingkat nasional.
Ia berharap pemerintah daerah semakin memperhatikan keberadaan lahan pertanian yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan.
“Saat ini dihadapkan dengan kondisi lahan yang semakin sempit karena sudah berganti bangunan. Jadi harapannya Pemkab lebih memperhatikan ini sehingga tidak terjadi lahan pertanian yang makin sempit,” katanya.
Ruli menjelaskan tanaman padi yang digunakan untuk tanbo art nantinya tetap dipanen seperti biasa. Khusus varietas Black Madras, sebagian hasil panen akan disimpan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya.
Meski memiliki daun dan batang berwarna ungu kehitaman, varietas tersebut menghasilkan bulir beras berwarna putih. Beras Black Madras juga memiliki pasar tersendiri karena dikenal rendah gula sehingga kerap menjadi alternatif pangan bagi penderita diabetes maupun penyakit jantung.
Di balik keindahan lukisan sawah tersebut, Ruli mengaku tetap menghadapi berbagai tantangan budidaya, terutama serangan hama.
“Untuk saat ini kondisi tanamannya tidak begitu bagus karena mendapat serangan hama, baik dari insect maupun wereng, meski wereng belum terlalu. Yang mulai kelihatan ada tikus juga. Kemudian di tempat kami juga banyak burung sehingga merusak tanaman,” ujarnya.

Leave a Reply