Dari Facebook ke Pabrik Scam Kamboja: Kesaksian Dianti Terjebak Penipuan Daring

Dari Facebook ke Pabrik Scam Kamboja: Kesaksian Dianti Terjebak Penipuan Daring
Ilustrasi Dianti, perempuan asal Jogja, yang terjebak jaringan penipuan di Kamboja. (Image created by AI/GPT/Espos)

Serambinusa.com, SOLO — Dianti (bukan nama sebenarnya) tidak pernah membayangkan pencarian pekerjaan yang ia lakukan melalui Facebook justru membawanya ke salah satu pusat operasi penipuan daring terbesar di Kamboja.

Perempuan asal Jogja itu awalnya hanya ingin mencari pekerjaan di luar negeri. Setelah beberapa tahun bekerja di Singapura, ia berharap bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik untuk membantu keluarga.

Semua bermula ketika ia mengunggah profil diri di sejumlah grup pencari kerja luar negeri di Facebook. Di sana ia berkenalan dengan seorang perempuan bernama Ani atau yang kemudian ia kenal sebagai Bu Ani.

Selama hampir satu bulan, keduanya berkomunikasi intensif. Bu Ani mengaku bekerja di Makau dan sering bercerita tentang perjuangannya merantau demi keluarga. Kedekatan itu membuat Dianti menaruh kepercayaan penuh.

Ketika Bu Ani menawarkan pekerjaan di Thailand dengan gaji sekitar Rp12 juta per bulan, Dianti tidak banyak curiga.

“Dia bilang tanggung jawabnya 100 persen. Dia enggak mungkin macam-macamin saya,” kata Dianti mengenang, dalam wawancara dengan Espos via Zoom pada Kamis (4/6/2026).

Perjalanan dimulai dari Indonesia menuju Malaysia. Dari Malaysia, ia kembali diterbangkan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Di titik ini Dianti mulai merasa ada yang janggal. Namun Bu Ani terus meyakinkannya bahwa semua aman.

Sesampainya di Vietnam, Dianti dijemput seorang pria warga negara China. Ia kemudian dibawa menggunakan mobil selama sekitar 4 hingga 5 jam menuju wilayah perbatasan.

Barulah ketika sampai di sebuah pos lintas negara, Dianti menyadari sesuatu yang tidak pernah diberitahukan sebelumnya. Tujuan akhirnya bukan Thailand, melainkan Kamboja.

“Aku shock. Aku benar-benar shock waktu tahu masuk Kamboja,” ujarnya.

Dari perbatasan Bavet-Pok Bai antara Vietnam dan Kamboja, Dianti dipindahkan menggunakan sepeda motor. Ia hanya mengikuti arahan orang-orang yang tidak bisa berbahasa Inggris maupun Indonesia.

Di kawasan imigrasi, ia melihat pemandangan yang tidak pernah terlupakan. Orang-orang dari berbagai negara berkumpul menunggu giliran masuk. Ada warga India, Vietnam, Myanmar, China, dan Indonesia. Di bawah area pemeriksaan, ia melihat sejumlah transaksi uang dolar berlangsung secara terang-terangan.

“Banyak sekali orang Khmer di bawah. Mereka seperti sedang berunding dan transaksi uang supaya orang bisa masuk,” katanya.

Namun saat itu ia tidak punya pilihan. Ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Ia juga terlalu takut memberi tahu keluarganya bahwa dirinya ternyata dibawa ke negara yang sama sekali berbeda dari tujuan awal. “Aku sudah pasrah saja waktu itu,” ujarnya.

Kontrak kerja penipuan daring yang menjerat Dianti. (Istimewa/Dianti)
Kontrak kerja penipuan daring yang menjerat Dianti. (Istimewa/Dianti)

45 Orang Indonesia dalam Satu Ruangan

Setelah memasuki kompleks tempat kerja, Dianti kembali dibuat terkejut. Bangunan yang dijanjikan sebagai tempat kerja restoran ternyata merupakan kantor operasi scam.

Ia dibawa ke sebuah ruangan besar yang menyerupai rumah susun. Di dalamnya terdapat sekitar 45 warga negara Indonesia yang bekerja di depan komputer. Masing-masing orang mengoperasikan dua perangkat komputer sekaligus.

Di bagian depan ruangan terdapat sejumlah pengawas warga negara China. “Satu orang dua komputer. Semua orang Indonesia,” katanya.

Dua unit apartemen bahkan telah dijebol menjadi satu ruangan panjang yang dipenuhi meja dan komputer. Ketika bertanya kepada pekerja lain mengenai pekerjaan yang akan dijalani, jawaban yang diterima membuatnya semakin bingung.

Scammer, Kak,” jawab salah seorang pekerja di sebelahnya.

Dianti yang sama sekali tidak memahami dunia penipuan daring hanya bisa memperhatikan pekerjaan rekan-rekannya sambil mengikuti pelatihan mengetik.

Ia dituntut mencapai kecepatan mengetik minimal 40 kata per menit sebelum diperbolehkan mulai bekerja penuh.

Tidak lama kemudian Dianti mengetahui bahwa pekerjaan tersebut bukan sekadar menjadi operator komputer. Ia harus ikut menjalankan berbagai modus penipuan daring yang menyasar korban di Indonesia.

Target yang dibebankan perusahaan sangat tinggi. Setiap pekerja diwajibkan menghasilkan transaksi hingga Rp300 juta per bulan. Jika mencapai target tersebut, mereka dijanjikan bonus sekitar US$200. Sebaliknya, apabila pencapaian berada di bawah target tertentu, gaji bisa dipotong bahkan tidak dibayarkan sama sekali.

Selain itu terdapat berbagai denda yang tidak pernah dijelaskan saat proses perekrutan. Kesalahan administrasi, gagal mencapai target, hingga berbagai alasan lain bisa berujung potongan gaji.

“Denda-denda itu dibayar pakai uang pribadi,” kata Dianti.

Makan Seadanya, Kerja sampai Tengah Malam

Tekanan yang dirasakan Dianti tidak hanya berasal dari pekerjaan. Kebutuhan sehari-hari para pekerja juga dikontrol ketat.

Jam kerja dimulai pukul 09.00 pagi dan baru berakhir sekitar pukul 00.00 malam. Setelah itu mereka kembali ke kamar yang masih berada di dalam kompleks perusahaan.

Pada hari pertama, Dianti bahkan harus mengambil sendiri kasur, sprei, ember, bantal, dan perlengkapan tidur yang disediakan perusahaan.

Yang paling membekas baginya adalah soal makanan. Menurut Dianti, pekerja yang gagal mencapai target tidak diperbolehkan membeli makanan tambahan di luar.

Mereka hanya boleh mengonsumsi makanan yang disediakan perusahaan. “Kalau belum target, enggak boleh beli makan di luar. Harus makan yang disediakan bos. Makanan sangat tidak layak, entah halal atau haram,” katanya.

Bagi Dianti, aturan tersebut membuat para pekerja seperti kehilangan kebebasan atas kebutuhan dasar mereka sendiri.

“Bu Ani”, Perempuan yang Mengendalikan Semuanya

Di dalam perusahaan, satu-satunya orang yang bisa berbicara langsung dengan bos, yang menurutnya adalah warga China adalah Bu Ani. Karena menguasai bahasa Mandarin, ia menjadi penghubung antara para pekerja Indonesia dan para pemilik perusahaan.

Namun menurut Dianti, posisi itu membuat Bu Ani memiliki kuasa yang sangat besar. Ia mengatur pekerjaan, target, bonus, hingga urusan makan para pekerja. Bahkan para pekerja sering menyebutnya sebagai sosok yang kejam.

“Kalau dapat bonus, bonusnya juga “dimakan” sama Bu Ani,” kata Dianti.

Kekecewaan Dianti memuncak ketika ia memutuskan ingin pulang setelah mengetahui pekerjaan yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan. Alih-alih membantu, Bu Ani justru meminta Dianti mengganti seluruh biaya keberangkatan.

Awalnya Rp20 juta, yang kemudian jumlah itu naik menjadi Rp30 juta. “Uang dari mana saya punya Rp30 juta?” ujar Dianti.

Pada bulan pertama, Dianti mengaku tidak menerima gaji sama sekali. Seluruh penghasilannya diambil dengan berbagai alasan yang tidak pernah dijelaskan secara rinci.

Sementara kontrak kerja yang baru diperlihatkan setelah ia tiba di Kamboja mewajibkannya bekerja selama sembilan bulan dengan gaji US$ 800 per bulan. Menariknya, kontrak tersebut tidak mencantumkan berbagai denda yang dalam praktiknya justru menjadi beban utama para pekerja.

“Yang ada cuma gaji. Denda-denda itu enggak ada di kontrak,” kata Dianti.

Menunggu Pulang dalam Kondisi Hamil

Selama tiga bulan bekerja, Dianti tidak pernah berhasil mencapai target. Di tengah tekanan tersebut, ia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Dianti hamil dengan sesama pekerja yang menjanjikannya tiket pulang ke Indonesia dengan syarat menuruti semua yang diminta.

Kondisi itu membuatnya semakin ingin pulang. Namun setiap permintaan untuk keluar selalu dibalas dengan tagihan biaya yang mustahil dibayar. Ia akhirnya bertahan sampai berhasil menemukan jalan keluar dan melapor ke KBRI Phnom Penh.

Proses pemulangan tidak mudah. Ia harus menjalani penahanan dan proses deportasi sebelum akhirnya bisa kembali ke Indonesia.

Saat meninggalkan Kamboja, Dianti membawa lebih dari sekadar trauma. Ia membawa pengalaman tentang bagaimana sebuah tawaran pekerjaan di media sosial dapat berubah menjadi jerat eksploitasi di negeri asing.

Di balik gedung-gedung kasino dan apartemen tertutup di Kamboja, Dianti melihat sendiri puluhan warga Indonesia yang setiap hari duduk di depan komputer menjalankan operasi penipuan daring.

Sebagian datang karena tertipu. Sebagian lainnya bertahan karena tidak lagi memiliki jalan pulang. Dan bagi Dianti, semua itu bermula dari satu pesan sederhana di Facebook yang menjanjikan pekerjaan dengan gaji besar.

Leave a Reply