7 Pelajar di Magetan Alami Low Vision, Hanya Mampu Melihat Jarak 1 Meter

7 Pelajar di Magetan Alami Low Vision, Hanya Mampu Melihat Jarak 1 Meter
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, dr Renny Kurniawaty saat memberikan keterangan, Jumat (28/8/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Serambinusa.com, MAGETAN – Sebanyak tujuh pelajar di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami low vision atau gangguan penglihatan berat. Kondisi tersebut membuat mereka hanya mampu melihat objek dengan jelas pada jarak sekitar 1 meter.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Magetan, Renny Kurniawaty, mengatakan temuan itu terungkap dalam tindak lanjut program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi pelajar yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan sepanjang tahun 2025.

Dari sekitar 57.000 pelajar yang telah mengikuti screening, low vision menjadi salah satu temuan yang perlu mendapat perhatian serius dari hasil pemeriksaan kesehatan mata para pelajar.

Low vision itu gangguan tajam penglihatan, di mana dia mampu melihat sekitar 1 meter. Padahal orang normal itu bisa sampai sekitar 40 meter. Ada tujuh anak,” ujarnya, Jumat (28/8/2026).

Dia menjelaskan ketujuh pelajar tersebut merupakan bagian dari sekitar 57.000 pelajar yang telah menjalani screening dengan hasil sebanyak 3.099 anak diketahui mengalami gangguan penglihatan.

Dari jumlah tersebut, 2.461 pelajar telah kembali ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan dan tindak lanjut. Hasil pemeriksaan menunjukkan gangguan penglihatan yang dialami pelajar cukup beragam.

Selain temukan kasus low vision, Dinkes Magetan juga menemukan 27 pelajar dengan tekanan bola mata yang mengarah pada gangguan glaukoma. Sementara gangguan refraksi menjadi temuan paling dominan, yakni dialami sekitar 971 anak.

Menurut Renny, temuan low vision menjadi perhatian karena gangguan tersebut menyebabkan kemampuan penglihatan anak sangat terbatas. Kondisi itu dapat berdampak pada aktivitas anak, termasuk proses belajar di sekolah, jika tidak segera mendapatkan penanganan.

Dia menyebut, gangguan penglihatan pada anak selama ini kerap tidak disadari. Anak yang mengalami rabun jauh, misalnya, cenderung mendekat ke papan tulis ketika tidak mampu melihat tulisan dari jarak jauh.

“Sering dianggap sepele karena memang tidak begitu disadari. Kalau tidak bisa melihat papan tulis dari jauh, mereka biasanya mendekat. Padahal mereka membutuhkan koreksi dengan alat bantu seperti kacamata,” sebutnya.

Menindaklanjuti temuan itu, Dinkes Magetan menegaskan telah melakukan sejumlah langkah tindak lanjut terhadap pelajar yang mengalami gangguan penglihatan. Renny merinci, sebanyak 62 pelajar telah dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya melalui layanan BPJS Kesehatan.

Sementara itu, sebanyak 610 pelajar dari keluarga kurang mampu telah mendapatkan bantuan kacamata dari Yayasan Paramitra. Adapun pelajar dari keluarga mampu diarahkan mendapatkan pemeriksaan dan alat bantu penglihatan secara mandiri.

Dalam perjalanannya, faktor ekonomi masih menjadi salah satu kendala dalam penanganan gangguan penglihatan. Ia mengungkapkan ada sebagian keluarga yang kesulitan membiayai perjalanan ke rumah sakit maupun membeli kacamata demi mendapat layanan kesehatan mata bagi buah hatinya.

Meski demikian, Dinkes Magetan terus melanjutkan screening CKG bagi pelajar. Program tersebut ditargetkan menyasar seluruh siswa jenjang SD hingga SMA dengan jumlah sasaran sekitar 98.000 pelajar.

“Memang masih berproses dan belum selesai. Biasanya akhir tahun selesai karena jumlah sasaran cukup banyak,” pungkasnya.

Leave a Reply